Kanak-kanak Muslim Rohingya yang terbunuh di pangku ibunya. Kanak lain terpana terpaku.(foto reuters)

* Dera Dukana Desah Nasib Insan * 

Bagian Ketiga (Penggal Dua)

Catatan Nestapa Sapar Kalsum Saleh


KEADAAN yang memaksa, menyebabkan jutaan orang harus mengungsi dari kampung halaman mereka. Rumah beserta harta benda tak mereka pedulikan lagi demi menyelamatkan diri. Jumlahnya pun senantiasa terus bertambah, tak peduli pada masa gebluk (pandemi).

MENCATATNYA, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) atau United Nations Organization (UNO) melansir pada Jum’at 7 Dzul Qo’idah 1442 (18 Juni 2021), bahwa jumlahnya pada dekade terakhir meningkat dua kali lipat. Tahun 2020 yang lalu, menjadi 82,4 juta orang.

“Pada tahun Covid-19 yang kebanyakan orang terbatas pergerakannya, jumlah orang yang terpaksa mengungsi justru bertambah tiga juta,” ujar Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi atau United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), Filippo Grandi kepada Reuters.

ASAL Negara para pengungsi, hampir 70 persen dari lima negara, yaitu Suriah, Afghanistan, Sudan Selatan, Venezuela, dan Myanmar, negara yang dulu bernama Burma atau Birma. Kontributor Tetap perepat.com, Sapar Kalsum Saleh, menuliskan catatan nestapa pada “Dera Desah Dukana Nasib Insan” para pengungsi Rohingya untuk para pembaca setia kita semua.

Maafkan kami, saban dua pekan baru dapat melanjutkan catatan ‘dera dukana desah nasib insan’ Muslim Rohingya itu.

Salam

Redaksi


جِيمِ الشَّيْطَانِ مِنَ بِاللَّهِ أَعُوْذُ

“Sesungguhnya harta-harta Anda dan (begitu pula) anak-anak Anda hanyalah cobaan  (yang menjadi ujian keimanan bagi Anda) dan di sisi Allaah-lah ganjaran keuntungan agung (berkat kesobaran Anda)”

                        – tarjamah-tafsir-puitisasi Q.S. 64, al-Taghoobun: 15/ XXVIII


Bengis Sadis Tatmadau dan Para Budahawan Yang Berkelampauan

Penggal Dua: Raung Kanak-kanak Yang Trauma dan Murung Pemuda Buthidaung

KEKAJAMAN Tatmadaw yang berkelampauan bengis dan sadis, membantai serta membunuh banyak Muslim Rohingya, memanglah perintah dari Atasan. Pengakuan mengejutkan dua tentara Myanmar menyebutkan, bahwa ada perintah pejabat militer untuk melakukan eksekusi massal terhadap Muslim Rohingya, sebagaimana dimuat The New York Post yang dikutip CNBC Indonesia, Kamis 10 September 2020 pukul 14.27 WIB (22 Muharrom 1442).

“Tembak semua yang kau lihat dan yang kau dengar,” ucap Myo Win Tun, satu dari dua tentara itu sebagaimana dimuat  video yang didapat media AS itu, menirukan perintah yang disampaikan Atasan kepada mereka.

Dia pun ikut pula pada satu operasi  membantai tiga puluh Muslim Rohingya (yang tak disebutkan lokasinya), dan menggali kuburan massal di dekat pangkalan militer. Tak pandang bulu mereka menembak semua orang.

“Menembak pria Muslim di dahi, dan menendang mayatnya ke dalam lubang.” ujarnya datar dengan suara monoton.

Rekannya Zaw Naing Tun mengakui pula, arahan yang sama  diterima batalionnya yang memerintahkan membunuh semua yang dilihat, tak peduli anak-anak atau pun dewasa. Mantan biksu (bikkhu, pendeta Budha) itu menyebut kalau dia telah membunuh delapan puluh Rohingya bersama batalyonnya.

Ada 20 desa yang dihancurkan di Maungdaw, diantaranya Doe Tan, Ngan Chaung, Kyet Yoe Pyin, Zin Paing Nyar dan U Shey Kya. Itu terjadi pada Agustus 2017.

PENGAKUAN itu, pengakuan  pertama kalinya dari mulut Tatmadaw, tentara militer Myanmar. Keduanya melarikan diri dari Myanmar ke Den Hagg, yang entah bagaimana nasibnya setelah itu. 

Selama ini pengakuan adanya pembantaian justru selalu  dari korban, Muslim Rohingya. Video, rekaman Tentara Arakan yang merupakan milisi etnis Rohingya, yang melawan tentara pemerintah itu, beredar di pengadilan Mahkamah Pidana Internasional atau International Criminal Court (ICC), Senin 19 Muharrom 1442 (7 September 2020) lalu.

DERA dukana desah ratib ratap nasib insan itulah yang membayang pula menjadi kepiluan, terutama di kalbu para ibu. Betapa para anak-anak tak sedikit yang trauma, dan para pemuda nelangsa jiwanya, sebagaimana Aqwam Fiazmi Hanifan menuliskanna di tirto.id 16 Zulhijjah 1438 (7 September 2017),  didasari laporan dan foto dari Adil Sakhawat, wartawan setempat yang menulis dari perbatasan Bangladesh-Myanmar.

Catatan ini memperkaya cerita dan data penderitaan Muslim Rohingya itu dari berbagai sumber pemberitaan.  Peristiwa memang dah berlalu lima tahun, namun gerunnya menjadi i’tibar (pembelajaran), betapa muslim senantiasa selalu menjadi ajang kezholiman para kafiruun dan musyrikuun.

TRAUMATIS akibat kebengisan sadis para tatmadaw beserta para budhawan itu,  terjadi dua pekan terkahir, di penghujung 1437  dan awal 1438 hijriyah (Agustus-September 2017). Kekejian dari operasi tak manusiawi itu, tindakan tatmadaw yang merampas dan membawa paksa anak-anak dari pelukan ibu mereka, lantas membunuhnya tanpa welas belas kasihan sedikitpun.

Peristiwa itu terjadi di empat desa di utara Maungdaw. Informasinya sesuai dengan  temuan Badan Dana Darurat Anak Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations International Children’s Emergency Fund  (UNICEF) pada 4 September 2017. Setidaknya ada 26 anak tanpa pendamping dirawat oleh organisasi perlindungan anak PBB itu.

MENGUNGSI, para anak-anak itu  melewati perbatasan tanpa pendamping. Sebagian orang tua dan keluarga mereka telah tewas dilibas para tatmadaw dan para budhawan. Pejabat UNICEF, Christophe Boulierac berucap, kemungkinan nantinya akan makin banyak temuan serupa. Dia juga menyebutkan, banyak anak yang melarikan diri ke Bangladesh mengalami trauma psikososial yang parah.

Ibu seorang anak laki-laki berusia empat tahun, Marium Begum, mengatakan bahwasanya anaknya mengalami trauma akut. Anaknya bergidik dan panik kalau bertemu orang asing yang tak dikenalnya.

Hal itu akibat anaknya acap terbayang-bayang kejadian di desa mereka. Rumah mereka dibakar, dan orang-orang yang menyayanginya disiksa serta dibunuh, termasuk ayahnya yang dibawa oleh militer Myanmar. Kini belum diketahui apakah ayahnya itu masih hidup atau sudah mati sansai dibantai.

***

NASIB celaka akan mendera pengungsi Muslim Rohingya yang bersua militer di tengah perjalanan, sebagaimana disaksikan oleh Nur Ankish. Wanita berusia 21 tahun itu melarikan diri, mengungsi  dari Desa Khanjarpara – Buthidaung.

“Tatmadaw datang menyerang ke desa kami dengan kekuatan besar. Setidaknya telah membakar dua ratus rumah. Mereka juga melepaskan tembakan menggila dan telah menahan begitu banyak lelaki, yang mereka bawa ke suatu tempat dengan tangan terikat ke belakang,” kisah Nur Ankish menahan marah.

“Adik suamiku, Abdul Aziz, tetanggaku Mohammad Amin, dan Mohammad Rafiq ditembak mati oleh militer Myanmar,” tukas Nur Ankish memelas gemas.

NA’AS,  nasib pun dialami  Kulsuma Khatun, tetangga Nur Ankish. Kulsuma masih shock berat, karena belum lama anaknya Mohammad Rafiq tewas mengenaskan diterjang peluru panas tatmadaw, militer Myanmar yang sangar itu.

Dia menuturkan bagaimana dia menyaksikan kematian anaknya. Pilu, dan hanya bisa pasrah saat anaknya meregang nyawa di depan matanya, dan dia tak  kuasa memberontak membela anaknya.

Jangankan memberontak, membantah pun lidahnya kelu. Maka Kulsuma hanya membisu saja, supaya selamat, tidak dilumat orang-orang bersenjata di dekatnya.

“Anak lelakiku itu berusia 26 tahun. Dibunuh  oleh tatmadaw tepat di depan mataku. Tatmadaw datang ke rumah kami mencari pemuda. Anakku dibawa ke luar rumah, lantas ditembak mati. Mereka langsung mencurigai anak kami itu baghi, (pemberontak, red.),” rutuk Kulsuma sesenggukan.

TERPURUK dan kian memburuknya krisis yang dialami Muslim Rohingya, ledakan arus besar pengungsi pada 2012, 2015, dan 2016. Tetapi pada 2017 itu berbeda, amat sedikit pria dewasa dan anak muda lelaki yang turut mengungsi.

Informasi dari mulut ke mulut pengungsi menyatakan, bahwa militer Myanmar menggila dan membabibuta, semena-mena membunuh kaum pria dengan menudingnya sebagai baghi.

Pelapor Khusus PBB untuk Situasi Hak Asasi Manusia (HAM) di – Prof. Yanghee Lee menginformasikan  kepada ‘The Hindu’ bahwa korban tewas lebih dari seribu orang.

“Angka itu jumlah dari seluruh wilayah utara Rakhine. Tidak hanya dari beberapa desa saja” ujarnya.

Prof. Yanghee juga menginformasikan rekaman citra satelit  organisasi Human Rights Watch yang memperlihatkan kebakaran di kawasan utara Negara Bagian Rakhine. Video citra satelit itu merekam desa-desa yang dibakar di sepanjang perbatasan 100 km di Negara Bagian Rakhine.

“Sulit untuk berkata bahwa hanya sedikit yang terbunuh,” ucapnya dengan nada bersunguh-sungguh.

RAUNG kanak-kanak yang dibunuh, yang menyisakan trauma bagi kanak-kanak yang masih hidup tak meluruhkan hati saunabari tatmadaw. Nelangsa jiwa para pemuda Muslim Rohingya yang murung,  tak mengurungkan terlebih lagi menghentikan perintah militer yang makin santer untuk menghabisi mereka. 

Pilu para ibu, dan desah para ayah yang anak-anak mereka terbunuh di depan mata mereka, seolah-olah menjadi tontonan yang meriah bagi tatmadaw dan budhawan. Subhaan Allaah. Tolonglah mereka segera wahai Allah. Tolonglah, karena Engkaulah Yang Sebaik-baik Penolong. Aamiin Yaa Mujib al-Saa-iliin.***

(In sya’a Allaah berlanjut ke penggal terakhir yang ketiga)

 Alhamdulillaah,

Bait al-Safar, Jalan Dirgantara, Gang Haji 3, Sidomulyo Timur, Marpuyandamai, Pekanbaru. Ahad siang ba’da zuhur, 8 Dzulhijjah 1442 (18 Jui 2021) pukul 13:23 WIB.

Leave a Reply