Suasana ceria diantara orang-orang yang menjelang pulang dari tanah suci.(foto herlina/perepat.com)

perepat.comTELAH dua kali musim haji Pemerintah Indonesia meniadakan pemberangkatan Jamaah Calon Haji (JCH), yakni 1441 dan 1442 Hijriyah (2020 dan 2021 Masehi). Padahal banyak diantara JCH telah melengkapi persyaratan administrasi dan telah menyetor lunas Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH).

LANTAS bagaimanakah status kepemilikan dana BPIH yang telah disetorlunaskan itu menurut tinjauan syariah? Apakah BPIH berlaku untuk pemberangkatan JCH setelah ada pemberangkatan kelak? Atau apakah dapat mengambil kembali dana BPIH yang telah disetorlunaskan itu? 

Simak Himpunan Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia IV/2012 berikut ini …!

1. Dana setoran haji yang ditampung dalam rekening Menteri Agama yang pendaftarnya termasuk daftar tunggu (waiting list) secara syar’i adalah milik pendaftar (calon haji). Oleh sebab itu, apabila yang bersangkutan meninggal atau ada halangan syar’i yang membuat calon haji tersebut gagal berangkat, dana setoran haji wajib dikembalikan kepada calon haji atau ahli warisnya.
2. Dana setoran BPIH bagi calon haji yang termasuk daftar tunggu dalam rekening Menteri Agama, boleh di-tasharruf-kan (digunakan untuk usaha, pen) untuk hal-hal yang produktif (memberikan keuntungan), antara lain penempatan di perbankan syariah atau diinvestasikan dalam bentuk sukuk (surat berharga, pen).
3. Hasil penempatan/investasi tersebut merupakan milik calon haji yang termasuk dalam daftar tunggu (antara lain sebagai penambah dana simpanan calon haji atau pengurang biaya haji yang riil/nyata), sebagai pengelola, pemerintah (Kementerian Agama) berhak mendapatkan imbalan yang wajar/tidak berlebihan.
4. Dana BPIH milik calon haji yang masuk daftar tunggu, tidak boleh digunakan untuk keperluan apapun kecuali untuk membiayai keperluan yang bersangkutan.

Adapun ketetapan di atas berlandaskan dari dalil Alquran dan hadits yang mengatur tentang hubungan antar manusia:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

 “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha penyayang kepadamu.” (Q.S. al-Nisa’: 29) 

اِنَّ اللّٰهَ يَاۡمُرُكُمۡ اَنۡ تُؤَدُّوا الۡاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهۡلِهَا ۙ وَاِذَا حَكَمۡتُمۡ بَيۡنَ النَّاسِ اَنۡ تَحۡكُمُوۡا بِالۡعَدۡلِ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمۡ بِهٖ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيۡعًۢا بَصِيۡرًا

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha mendengar, Maha melihat.” (Q.S al-Nisa’: 58)

Dalil Hadits :

 أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ 

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,“Tunaikanlah amanah dari orang yang telah memberikanmu kepercayaan, dan janganlah engkau membalas orang yang telah mengkhianatimu.” (Hadits shohih riwayat Abu Daud, at-Tirmidzi, al-Hakim, al-Bukhari dalam tarikhnya. Lihat Shahiihul Jaami’ no. 240).

SEPENUHNYA dana BPIH milik sah dan halal JCH, dan BPIH yang telah disetorlunaskan itu tidak boleh digunakan (oleh Pemerintah atau pihak manapun) untuk keperluan apapun, kecuali oleh pemilik atau seizin pemilik BPIH.(sap)

  • Sumber: mui.or.id

Leave a Reply