Oleh, Tuan Guru Haji Syafruddin Saleh Sai Gergaji

HAUL ke-8 Hasan Junus, di Rumah Seni Tanjung Sekatap, Dompak, Kota Tanjungpinang,  Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), pas pada 30 Maret 2021, tanggal wafat kematiannya 9 tahun yang lalu.  Acara Selasa malam Rabu, 17 Sya’ban 1442 pukul 19.30 WIB itu menjemput sejumlah sastrawan-budayawan menghadirinya.

Bersempena haul, dilaksanakan pula peluncuran buku “Noblesse Oblige”  80 tahun usia HJ (begitu pebasaan akrab almarhum biasa dipanggili) yang memuat tulisan beberapa sastrawan dan mereka yang pernah bergaul akrab dengan almarhum. Karena yang dapat hadir dibatasi akibat pandemi covid-19, acara disiarkan langsung via internet (live streaming). Penaja dan pemrakarsa acara dan penerbitan buku, YB Rida K Liamsi Datuk Seri Lela Budaya, sastrawan-wartawan sepuh yang masih lasak berkiprah.

Tulisan da’i sastrawan-budayawan-bahasawan, Tuan Guru H Syafruddin Saleh Sai Gergaji, kami muat untuk para pembaca setia perepat.com sekalian.                                               
                            Redaksi

HASAN Junus (biasa dipebasakan HJ), seorang di antara sastrawan Indonesia ternama. Pengarang yang cemerlang dan terbilang, kilau kemilau berdelau dari tanah Riau (Kepulauan Riau), bumi jati rantau Melayu ini, dianugerahi Seniman Perdana (SP). Lahir di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau – Ahad 15 Zulhijjah 1359 (12 Januari 1941) (sering ditulis pengarang, Tanjungpinang – sebagaimana Ensiklopedia Bebas Wikipedia mencatatkan).

MENCATAT muasal dari zuriyatnya, bungsu delapan bersaudara ini  berdarah bangsawan keturunan langsung Raja Diraja Melayu Riau-Lingga-Johor-Pahang  bangsawan berdarah Bugis,  cicit ulama’ dan sejarawan pengarang ternama Raja Ali Haji. Dia tak suka menonjolkan kebangsawanannya, maka didepan namanya tak menyertakan “Raja”. Padahal jika dirunut menurut kebangsawanannya itu, nama selenkapnya: Raja Hasan bin Raja Haji Muhammad Junus bin Raja Haji Ahmad bin Raja Haji Umar (bergelar Raja Endut) bin Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua bin Raja Haji fii SabililLaah.

PERNAH kuliah di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat, pada Jurusan Sejarah  dan Antropologi, seKaligus pada Jurusan Bahasa Jepang di Institut For Forign. Meskipun tak satupun hingga tamat bergelar sarjana, karena titel bukanlah hal yang penting baginya, ilmu sastranya luas dan berwawasan. Tak heran, sebab dia dapat melahap karya para pengarang dunia dengan gampang, karena menguasai beberapa bahasa asing, Arab, Prancis, Inggris, Jerman, juga bahasa Jepang.

BERKARYA bermula di Tanjungpinang. Hijroh ke Pekanbaru Setelah Sidang Sastra 81. Dia diajak bersama bekerja di Penerbit CV Bumi Pustaka, yang baru dirintis Ibrahim Sattah. Betah, maka menetaplah dia di Pekanbaru. Bekerja di SKM Genta, lantas penulis tetap di SKH Riau Pos – menggawangi kolom “Rampai” saban Ahad. Akhirnya, menjadi Pemimin Redaksi Majalah Sastra Sagang, hingga wafat,  Jum’at 7 Jumadil Awwal 1433 (30 Maret 2012). 

MENGARANG, dunia kepenulisan yang mengalir dari arus yang diwarisinya turun-menurun. Dia cicit-saudara  Raja Ali Haji (Pahlawan Nasional Sang Bapak Bahasa Indonesia) yang bersaudara dengan moyang kandungnya Raja Haji Umar (bergelar Raja Endut). Aisyah Sulaiman Riau, Emak Saudara Dua Pupu pun pengarang pula. Didahului oleh moneng (moyang ayahnya) Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua, pelopor kepengarangan di Kerajaan. Lengkaplah sudah. 

TUNAK, tumpal atau fokus menekuni kepenulisan dan kepengarangan, menjadi sikap mantap hidup dan kehidupannya. Dari situlah dia sandarkan rezki dan nasibnya. Walau kepakarannya dan keahliannya dihargai oleh pihak Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau (FKIP UIR), dan Fakultas Sastra Universitas Lancang  Kuning (FS Unilak, kudian menjadi Fakultas Ilmu Budaya/FIB) yang mengamanahkannya menjadi pensyarah (dosen), tak berlama-lama dia sanggup bertahan. 

Teguh menjadi penulis atau pengarang. Tiadalah dia khawatir, dan sedikit pun tak ragu memilihnya sebagai profesi, karena yakin pada janji Allaah yang senantiasa menjamin rezki hambanya yang istiqomah (teguh pendirian, konsekwen) bekerja pada pekerjaannya.

BERBAGAI penghargaan dari hunus pena penaga Hasan Junus telah pula mentasbihkan dirinya dipilih sebagai  seniman budayawan peraih Anugerah Sagang l999. Sebelum itu, bukunya Raja Ali Haji Budayawan di Gerbang Abad XX  menjadi buku terbaik Anugerah Sagang 1996, jolong anugerah itu ditaja. Anugerah seni Dewan Kesenian Riau (DKR) pada 200l menyatakan dirinya sebagai Seniman Pemangku Negeri =SPN), dan pada 2002 dinobatkan meningkat menjadi Seniman Perdana), gelar tertinggi anugerah seni. Anugerah Seni Tradisional diperolehnya pula pada 2006.

KEPIAWAIAN mengawai gawai tulisan semua bentuk kesusastraan, HJ disetarakan dengan Hans Bague (HB) Jassin oleh pengarang buku “Dermaga Sastra Indonesia: Kepengarangan Tanjungpinang dari Raja Ali Haji sampai Suryatati A. Manan” ( Jamal D. Rahman, Al Azhar, Abdul Malik, Agus R. Sarjono, dan Raja Malik Hafrizal,  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang,  Komodo Books, Jakarta: 211). Kengkawan menjulukinya Paus Sastra, Pendeta Sastra, Kiai Sastra. Bagi saya, dia melebihi H.B. Jassin, dia Sastrawan Kilau Kemilau Berdelau, sebagaimana  saya nyatakan pada awal tulisan catatan singkat ini. Julukan sebagai si Pena Yang Tak Pernah Kering, disandangkan oleh Umar Usman (UU) Hamidy pula kepadanya.

Senarai Karangan Hasan Junus

DERAS bernas dari pemikirannya telah menghasilkan berbagai bentuk karya sastra. Makalah, esai asli dan terjemahan, naskah sandiwara (drama), cerita pendek (cerpen) asli dan terjemahan, serta resensi (tinjauan buku), dan juga buku yang sudah diterbitkan.  77 karya tulis lepas (fiksi cerpen asli 5, cerpen terjemahan 17; makalah 16; resensi 2).

DI ANTARA karyanya, tulis Abdul Malik (‘Hasan Junus: Kiai Sastra Indonesia’, jantungmelayu.com, Selasa 21 Rojab 1438/ 18 April 2017), cerita pendek (cerpen) Pengantin Boneka karyanya, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Jeanette Lingard, yang diterbitkan pada Diverse Lives-Contemporary Stories from Indonesia oleh Oxford University Press (1995). Buku Corak dan Ragi Tenun Melayu yang ditulis bersama Abdul Malik, Tennas Effendi, dan Auzar Taher – menjadi koleksi National Lebrary of Australia, yang menjadi bacaan wajib di negeri kanguru itu. 

“MENYIMAK”, majalah sastra berkala yang diterbitkan Yayasan Membaca, Pekanbaru, (yang terbit hingga 9 edisi saja) memuat  delapan karya dari penulis dari beberapa negara, yaitu, Inggris, Prancis, Meksiko, Somalia, Haiti, Senegal, India. Karya-karyanya tersebar di banyak media massa dalam negeri dan luar negeri. Senarai karyanya yang dapat saya catat, sebagaimana berikut.

TULISAN HJ berupa makalah, esai, artikel, naskah sandiwara (drama), cerita pendek (cerpen), buku (antologi, novel/novelet, dan bunga rampai), serta yang lain-lain dapat dibaca pada Ensiklopedia Sastra Riau (Agus Sri Danardana, ed. , Palagan Press, Pekanbaru: 211, hal. 119-125). Pada tulisan ini, saya cantumkan karya-karya HJ yang langsung saya simak, dan saya baca sendiri, dan yang dimuat di Surat Kabar Mingguan (SKM) Genta ketika kami bersama semasa bekerja di situ.  Makalah, karya tulis ilmiah tentang sesuatu yang dibacakan atau disampaikan pada forum persidangan simposium atau seminar. 

Mula pertama membaca dan menyimak makalah HJ, bertajuk 1) “Mantera Melayu dalam Perpuisian Indonesia”. Karyanya itu makalah yang dibagikan Panitia Sidang  Sastra Pekanbaru ’81 (medio November), kepada sebagian peserta. Di antaranya isinya menyebut Sutardji Calzoum Bahri, dan Ibrahim Sattah. 2) Dari rentang waktu berbeda, makalahnya  “Ibrahim Sattah Mencari dan Menemukan Tempat” (pengantar pembacaan sajak di Aula Depdikbud Riau, Jalan Cut Nya’ Din, Pekanbaru, 1982). 3) Lantas ceramahnya di hadapan para wartawan di Gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau (yang kemudian bernama Gedung Noerbahrij Yoesoef) yang menyajikan makalah “Wartawan, Pencatat Sejarah di Garis Depan”(1982). 

4) Selanjutnya “Revitalisasi di Sumbu Dunia Melayu” pada Seminar Pencantuman Kembali Piagam Melayu – Pertemuan Sastra Malaysi-Indonesia (UNRI, 1983). 5) “Pendidikan Islam Tempo Doeloe”, Seminar Pendidikan Islam di Riau (Yayasan Lembaga Pendidikan Islam/ YLPI, aula Universitas Islam Riau/ UIR, Jalan M. Yamin, Pekanbaru, 1987). 6) “Memahami Keindahan dan Kebijakan Dari Sekuntum Mawar – Pengenalan Dengan Sastra Bandingan” (FKIP UNRI, 1989). 

7) “Budayawan Riau Dari Masa ke Masa” ( aula Fakultas Sastra Unilak, 1990), 8) “Cerita Pendek: Sejak Pawang Pelipur Lara Hingga BM Syamsuddin” (Teater Arena, Balai Dang Merdu, 1991 – sudah dibongkar menjadi bangunan megah gedung Bank Riau-Kepri, meski ada nama Menara Dang Merdu sekarang). 9) “Maha Puisi dan Kisah-kisah Yang Indah”, Taman Budaya Riau, 1992.

ESAI, tulisannya yang kemudian dimuat menjadi artikel di suratkabar atau majalah. Selama semasa di Genta, pada catatan saya ada enam tulisan esainya, yaitu: 1) “Mematut Masa Lampau” ; 2) “Kejahatan dan Hukuman” ; 3) “Mimpi-mimpi Eliza Sondari” ; 4) “Cerita Rakyat, Mawar Studi Antropologi” ; 5) “ Hang Nadim Siluet Dalam Gelap” ; dan 6) “Bina Muliya Bangsa Melayu Riau dengan Huruf Arab Melayu”, kesemua-muanya pada 1983. 

Selain itu, ada dua tulisan lagi dengan nama pena, yang saya lupa nama-pena dan judul tulisannya. Kalau tak silap satu di antaranya menggunakan nama Evi Eliza atau Eliza Susanti – dara jelita yang bekerja sekejap sebagai sekretaris di Genta. 

Kemudian Tulisannya tentang  1) “Membaca Watak Bangsa dari Peribahasanya” yang  dimuat Suratkabar Kampus (SKK) Bahana Mahasiswa (1985),  yang dikelola beberapa aktivis mahasiswa UNRI. Kudian juga 2) “Soeman Hs Pemula Cerita Pendek Indonesia”, 1991).  

RESENSI atau tinjauan-buku yang dimuat Genta, ada dua.artikel resensi, yaitu: 1) “Dukun Riau” (tentang buku UU Hamidy). 2) “Lancang Kuning dalam Malam”.

AWAL mula publikasi tulisan karangan HJ dimuat pada 1971. Tersebar di Majalah Sastra Horison, Suratkabar Indonesia Raya. Tahun-tahun berikutnya, hingga akhir hayatnya, dimuat pada Majalah Matra dan Kartini, juga di Suratkabar Suara Karya, Kompas, dan Haluan (Padang). Menjadi kelebihan yang Allaah karuniakan kepada HJ, betapa pun dia menerjemahkan karya asing ke bahasa Indonesia, kelenturan bahasa Melayu tak luput dari karya-karyanya. 

AKHIR hayatnya telah dijeda Allaah, namun karya-karyanya semasa hidup menjadilah penaga (calophyllum inophyllum) batang pohon, yang daun dan kulitnya dapat dibuat menjadi obat – penyembuh dahaga mereka yang haus dengan kesusastraan. 

Dari Allaah kembalilah jua ke Allaah. Inna lilLaahi wa inna ilaihi roji’uun. Yarhamuhullaah (semogalahAllaah merohmatinya). Yaghfirullaahu lahu  (semogalah Allaah mengampuninya). Ya’fullaahu Ta’ala ‘anhu (semogalaah Allaah memaafkannya). Aamiin Yaa arham al-Rohimiin, Yaa Rabb al-‘Alamiin. Wa Allahu ‘alamu bi al-showab.***

Pekanbaru, Selasa malam 17 Sya’ban 1442 (30 Maret 2021), pukul 23:23 WIB

                           

Leave a Reply